Senin, 29 September 2008

POJOK SIP & TOP PEKAN INI By Mr.Lim

KISAH PILOT, PESAWAT TERBANG DAN PARA AWAKNYA

Sebuah Renungan : “Mengapa Kita Harus Ada Di Sini ?”

Oleh : Mr.Lim

Perputaran baling-baling pesawat terbang itu membutuhkan tenaga yang lebih besar lagi. Sementara konsentrasi, komitmen dan perhatian dari pilot mesti segera ditingkatkan sedemikian rupa agar supaya tidak lekas goyah ketika menghadapi terpaan angin, guntur, hujan dan terik matahari dan lain-lain yang akan mengganggu keindahan dan kelancaran terbangnya pesawat itu. Untuk itu, tidak cukup semata-mata hanya mengandalkan tempaan eksternal oleh ‘Sang Pelatih’, melainkan juga perhitungan, kematangan dan evaluasi secara pribadi oleh si pilot sendiri mutlak diperlukan.

Kita tidak sedang melakukan perjalanan penerbangan jarak dekat, melainkan penerbangan yang siapapun dari kita tidak pernah tahu kapan mesti mendarat di landasan perhentian. Jadi, tentu saja bekal dan kesiapan fisik serta mental menjadi syarat mutlak menghadapi penerbangan jauh.
Ketika mesin sudah dihidupkan, baling-baling mulai berputar, si pilot beserta awak yang lain mestinya sudah tahu kemana arah yang dituju, dari mana mereka berangkat, bagaimana rute medan yang hendak ditempuh, apa yang mesti disiapkan, strategi apa yang harus dilakukan nantinya bila harus menghadapi rintangan dan hambatan yang selama perjalanan, dan lain sebagainya.

Pesawat itu pun akhirnya mulai diterbangkan. Pemandangan yang berbeda pun nampak warnanya. Sementara si pilot beserta awaknya kini mencapai ketinggian yang termasuk lumayan, sambil terus memperhatikan kemudi dan memandang keadaan sekitar demi tetap terjaganya kestabilan pesawat.

Tidak terasa perjalanan penerbangan sudah memasuki bilangan jam, hari bahkan minggu, bulan dan tahun. Beberapa awak sepertinya mulai merasa mabuk udara, mengeluh sakit, pusing-pusing dan sulit bernafas lega. Sedangkan yang lain ada yang mengharapkan perjalanan dihentikan sejenak guna istirahat. Sebagian yang lain meminta pilot untuk mempercepat terbangnya pesawat. Ada juga yang tenang-tenang saja tidak peduli keadaan teman-teman awak yang lain. Satu dua orang awak pesawat, lama kelamaan menjadi kesal juga melihat tingkah sebagian awak yang lain. Sementara itu, diam-diam awak yang rada kecewa dengan pilot pun ikut-ikutan latah menuntut hal yang bahkan mungkin lebih aneh dan sulit dimengerti baik bagi pilot maupun sebagian awak yang lainnya. Namun begitu, untung saja tidak satu pun dari awak pesawat itu yang berniat terjun payung apalagi terjun bebas.

Ternyata, lain awak lain pula pilotnya. Meski sempat bingung, kesal dan khawatir dengan tuntutan serta keinginan awak-awaknya, namun si pilot tetap tegar, sabar dan kukuh. Baginya, itu semua adalah merupakan resiko dari sebuah perjalanan penerbangan panjang yang telah berulang kali ia lakukan dan rasakan.

Akhirnya, si pilot malah memilih untuk mencoba menenangkan diri, serta tidak terlalu ambil pusing dengan tuntutan ini dan itu, sambil terus menerbangkan pesawat karena memang perjalanan yang harus ditempuh masih jauh dan terpaan cuaca yang dihadapi kian berat dan menantang. Jadi, “Konsentrasilah dan tetap waspada !”, seru si pilot.

“Ya memang betul apa yang dikatakan si pilot !”, ujar dua tiga awak pesawat seraya menyetujui apa yang dikatakan pilot. “Lebih baik kita berkonsentrasi dan tetap fokus pada arah tujuan kita !”, lanjut mereka. “Daripada banyak mengeluh, lebih baik lakukan sesuatu yang bisa membantu si pilot agar kita bisa segera sampai ke tujuan !”, sergah yang lain.

Dengan kondisi awak yang ada, terpaan cuaca buruk yang kian hebat terus dihadapi. Perlahan tapi pasti akhirnya pesawat itu mulai terbang rendah dan akhirnya mendarat untuk mengisi bahan bakar pesawat, istirahat sejenak guna menghadapi penerbangan selanjutnya yang semakin berat.

Demikianlah, akhirnya pesawat dan baling-baling berhenti, singgah sebentar walau pilot dan awaknya tetap ingin segera melanjutkan penerbangan untuk tugas mulia di depan mata yang lebih berat lagi. Namun sepertinya harus tertunda beberapa saat guna mendinginkan mesin pesawat yang agak rewel supaya sehat kembali, menata ulang formasi awak yang ada, sekaligus memompa kembali moril dan semangat beberapa awak pesawat yang sempat mengeluh selama perjalanan penerbangan sebelumnya.

Akankah pesawat itu segera terbang kembali ? Dengan pilot yang sama atau justru diganti dengan pilot lainnya ? Antusias dan semangatkah para awak pesawat tersebut untuk tetap melanjutkan penerbangan meskipun kelak dipimpin oleh pilot yang sama atau bisa jadi berbeda ? Dapatkan jawabannya pada edisi berikutnya.

Tidak ada komentar: